Rabu, 18 Juli 2012

laporan praktek


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar belakang
Penduduk selawesi selatan umumnya (40,57 %) bekerja sebagai petaninelayan, dengan rata–rata luas lahan pemilikan yang sempit sekitar 0,25 Ha. (BPS sulsel, 2010), sedangkan Kabupaten endrekang 41,82 % bekerja sebagai petani. Upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani, telah menetapkan program pengembangan usaha agribisnis.  
Agribisnis adalah suatu usaha tani yang berorientasi komersial atau usaha bisnis pertanian dengan orientasi keuntungan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh agar dapat meningkatkan pendapatan usahatani ádalah dengan penerapan konsep pengembangan sistem agribisnis terpadu, yaitu apabila sistem agribisnis yang terdiri dari subsistem sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pengolahan dan pemasaran dikembangkan secara terpadu dan selaras.
Menurut Data PDRB sulawesi selatan (2010) menyebutkan bahwa Pertumbuhan dan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Indonesia paling rendah (2,7%) dibandingkan sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor industri. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa pembangunan pertanian tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan, padahal Indonesia adalah negara agraris.
Kelompok tani sayuran di kabupaten Endrekang maupun kabupaten lainnya, perkembangan usaha taninya tidak berkembang kearah peningkatan pendapatan, karena petani tidak memiliki komitmen yang tinggi terhadap keuntungan, melainkan hanya berorientasi terhadap produksi. Usaha tani berorientasi pada produksi berarti kurang memperhatikan komoditi yang sesuai, tingkat permintaan, mutu/kualitas, kontinuitas serta kurang memperhatikan peluang pasar sehingga hasilnya statis.
Permasalahan tersebut antara lain disebabkan oleh tidak efisiennya usaha tani yang dilakukan, serta kurangnya akses teknologi pada tingkat petani. Disamping itu iklim investasi yang belum kondusif bagi para investorm untuk menanamkan modalnya di bidang agribisnis. Kondisi tersebut secara tidak langsung terjadi karena lemahnya kelembagaan pada tingkat petani, serta kurang intensifnya penetrasi inovasi teknologi pada tingkat petani. Kabupaten Baraka sebagai salah satu dari 35 kabupaten/kota di selawesi selatan mempunyai potensi yang strategis untuk pengembangan agribisnis. Berdasarkan BPS Kabupaten Baraka tahun 2012 mata pencaharian penduduk kabupaten Baraka sebagian besar adalah petani, yaitu sebanyak 23.746 jiwa (46,65%) dari jumlah penduduk Baraka.
Salah satu inovasi teknologi yang saat ini berkembang di kabupaten Baraka adalah agribisnis sayuran yang diusahakan dengan sistem diversifikasi yang terdiri dari sayuran yang mempunyai nilai ekonomis tinggi (kol bunga, brokoli, tomat, bawang merah). Secara realitas berkembangnya agribisnis yang dikembangkan di kabupaten Baraka tersebut, adalah karena adanya pembinaan dari pemerintah melalui tenaga ahli dari penyuluh pertanian, yang sekaligus sebagai pendamping bagi para petani. Bahkan pada saat ini pendampingan agribisnis sayuran tersebut berkembang ke 3 wilayah kecamatan di kabupaten Baraka yaitu Kecamatan endrekang, Kecamatan maiwa dan Kecamatan anggera. Pada sisi lain agribisnis sayuran tanpa pendampingan tenaga ahli penyuluh pertanian juga berkembang di kabupaten Baraka. Kondisi ini berarti ada 2 kelompok agribisnis sayuran yang mempunyai potensi menerapkan manajemen yang tidak sama, sehingga diduga mempunyai pengaruh terhadap pendapatan petani. Penerapan manajemen tersebut antara lain dalam hal skala usaha, penggunaan sarana produksi, teknologi budidaya yang diterapkan, penanganan dan pengolahan pasca panen serta pemasaran hasil.
1.2.        Tujuan penelitian
1.    Mengetahui mekanisme sistem pendampingan tenaga ahli terhadap pengembangan agribisnis sayuran di kabupaten baraka.
2.     Mengetahui penerapan sistem agribisnis pada petani sayuran (program  pendampingan maupun tanpa pendampingan).
3.     Menghitung besarnya tingkat pendapatan agribisnis sayuran pada tingkat petani.
4.    Menganalisa pengaruh penerapan sistem agribisnis terhadap pendapatan agribisnis sayuran.
1.3.        Tempat dan waktu
Adapun waktu dan tempat dilakukan penelitian yaitu di daerah desa perangian, kecamatan baraka, kabupaten endrekang, pada tanggal 18 februhari 2012, pukul 10 : 15 WIB, yang terletak di desa pecangian Karena itu tempat yang tepat untuk dilakukan penelitian.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.     Pengertian Sistem Agribisnis
Agribisnis merupakan cara baru melihat pertanian dalam arti cara pandang yang dahulu dilaksanakan secara sektoral sekarang secara inter sektoral atau apabila dulu dilaksanakan secara sub sistem sekarang secara sistem (Saragih, 2007). Dengan demikian agribisnis mempunyai keterkaitan vertikal dan antar subsistem serta keterkaitan horisontal dengan sistem atau sub sistem lain diluar seperti jasa–jasa (Finansial dan perbankan, transpotasi, perdagangan, pendidikan dan lain-lain)
Sistem Agribisnis mencakup 4 (empat) hal, Pertama, industri pertanian hulu yang disebut juga agribisnis hulu atau up stream agribinis, yakni industri–industri yang menghasilkan sarana produksi (input) pertanian seperti industri agro-kimia (pupuk, pestisida dan obat- obatan hewan), industri agro-otomotif (alat dan mesin pertanian, alat dan mesin pengolahan hasil pertanian) dan industri pembibitan/perbenihan tanaman/hewan. Kedua, pertanian dalam arti luas yang disebut juga on farm agribisnis yaitu usaha tani yang meliputi budidaya pertaniaan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan kehutanan. Ketiga, industri hilir pertanian yang disebut juga agribisnis hilir atau down stream agribusness, yakni kegiatan industri yang mengolah hasil pertanian hasil pertanian menjadi produk olahan baik produk antara maupun produk akhir. Keempat, jasa penunjang agribisnis yakni perdagangan, perbankan, pendidikan, pendampingan dari petugas ataupun tenga ahli serta adanya regulasi pemerintah yang mendukung petani. dan lain sebagainya. Dari empat unsur tadi mempunyai keterkaitan satu dan lainnya sangat erat dan terpadu dalam sistem. (Saragih, 2007). Dengan demikian pembangunan agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa sekaligus. Sampai dengan sekarang berdasarkan realita dilapangan pembangunan pertanian hanya sepotong-potong dan tidak dilaksanakan secara terpadu, koordinatif dan selaras.
Indonesia sebagai negara agraris dan dalam pembangunan pertaniaannya tidak mempunyai daya saing yang kompetetif dalam era globalisasi saat ini karena belum memiliki industri perbenihan yang mampu mendukung perkembangan agribisnis secara keseluruhan. Menurut Saragih (2007) dalam membangun sistem agribisnis pada umumnya benih yang digunakan petani adalah benih memiliki kualitas rendah sehingga produksi dan kualitas yang dihasilkan rendah dan benih impor yang digunakan belum tentu dapat dan sesuai iklim indonesia. Petani Indonesia dalam mengembangkan usahatani agar menghasilkan produk yang memiliki daya saing yang tinggi, maka usahanya disesuaikan kondisi iklim dan topografi yang memiliki kekhasan sebagai daerah tropis, kekhasan ini perlu ditingkatkan mutu dan produktivitasnya. Kendala yang timbul pada pengembangan  agribisnis pada umumnyan antara lain sumber daya manusia dan teknologi, karena itu perlu adanya fasilitasi pemerintah dalam bentuk pendampingan.
Pengembangan usaha tanaman sayuran merupakan peluang dan prospek yang cukup besar dalam peningkatan perekonomian daerah dan pendapatan petani terutama didaerah dataran tinggi. Menurut Ishaq,et.al. (2007) dalam pengembangan agribisnis sayuran tehnologi pertanian sangat berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani, agar pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat apabila dilaksanakan secaara terpadu dalam sistem agribisnis. Managemen agribisnis sayuran dalam pengembangan usahanya dilaksanakan melalui sistem agribisnis secara utuh dari semua subsistem dan saling terkait antara subsistem satu dan lainnya apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini (Said,et.al.2007) Faktor kunci dalam pengembangan agribisnis sayuran adalah peningkat-an dan perluasan kapasitas produksi melalui renovasi, menumbuh-kembangkan dan restrukturasi agribisnis, kelembagaan maupun infrastruktur penunjang peningkatan dan perluasan kapasitas produksi diwujudkan melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur. Kebijakan revitalisasi pertaniaan perikanan dan kehutanan adalah pengembangan agribisnis dengan fasilitasi/dukungan dariaspek tehnologi on farm dan off farm, investasi, mekanisasi pertanian dan promosi serta pengembngan yang disesuaikan lahan.
Menurut Said et al, (2007), Fungsi–fungsi agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian agribisnis dapat dipandang sebagai suatu sistem pertanian yang memiliki beberapa komponen sub sistem yaitu, sub sistem agribisnis hulu, usaha tani, sub sistem pengolahan hasil pertanian, sub sistem pemasaran hasil pertanian dan sub sistem penunjang, dan sistem ini dapat berfungsi efektif bila tidak ada gangguan pada salah satu subsistem.
Faktor pendukung keberhasilan agribisnis adalah berkembangnya kelembagaan-kelembagaan tani, keuangan, penelitian dan pendidikan. Menurut hasil kajian pengaruh kelembagaan terhadap adopsi irigrasi Nono Hartono (2009) terhadap kelembagaan tani di kabupaten Tasikmalaya menyampaikan bahwa hubungan antara kelembagaan tani belum efektif dan sangat sederhana dalam pengembangan agribisnis. Menurut Rahardi dalam cerdas beragribisnis tahun 2006, usaha agribisnis dapat meningkatkan pendapatan petani bila dikelola dengan sumberdaya manusia yang cerdas dalam mengakses teknologi, informasi, pasar dan permodalan. Produktivitas padi meningkat karena pengelolaan usaha tani yang baik.
2.1.1. Subsistem Sarana Produksi
Dalam pengembangan agribisnis sayuran sarana produksi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Menurut Said et al. (2007) Untuk mencapai eficiency input– input sarana produksi harus ada pengorganisasian dalam penerapan sub sistem ini yaitu penerapan jumlah, waktu, tempat dan tepat biaya serta mutu sehingga ada optimasi dari penggunaan input–input produksi. Meningkatnya produksi dan pendapatan petani bila didukung adanya industri-industri agribisnis hulu yakni indutri–industri yang menghasil-kan sarana produksi (input) pertaniaan (the manufacture and distribution of farm supliies) seperti industri agro–kimia ( industri pupuk, industri pestisida, obat-abatan hewan) industri alat pertaniaan dan industri pembibitan/ pembenihan. Untuk daerah–daerah dekat lokasi petani ada kios–kios saprodi (Saragih,2007).  
Agribisnis modern yang orientasi pasar, haruslah mampu menghasilkan produk–produk benih yang unggul dan sesuai agroklimat di suatu kawasan dan produktivitas komoditas, karena dalam mata rantai produk–produk agribisnis merupakan mata rantai yang sangat penting, berarti pembangunan industri–industri merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Produk impor benih yang marak beredar di Indonesia terutama benih sayuran yang belum tentu cocok di Indonesia. Sebagai contoh atribut mangga arumanis yakni aroma, cita rasa, warna, kandungan vitamin, serat, dan ukuran ditentukan oleh bibit (Saragih,2007).
2.1.2. Subsistem Budidaya
Sayuran merupakan tanaman yang dapat tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi tergantung jenis sayuran tersebut dapat tumbuh, yang termasuk sayuran dataran rendah adalah Bawang merah, Cabe, Tomat, Kangkung, Bayam, Kacang Panjang, Koro, Kecipir, terong dan Sayuran dataran tinggi antara lain Asparagus, Tomat, Akucay, Brokoli, Kai-lan, Kubis, Lettuce, Buncis, Kapri, To-miau, Coriander, Pare, Bamboo Taiwan, Tang-o, Bawang merah (ATM_ROC,2009).
Pengembangan agribisnis sayuran merupakan komoditas yang potensial dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, produktivitas dan kualitas hasil sangat ditentukan oleh saat tanam, agroklimat, jenis tanah, penggunaan sarana produksi, teknologi budidaya, pengolahan pasca panen, dan pengemasan.serta pemasaran.
Dalam pengembangan usaha agribisnis sayuran sangat ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusia dalam perencanaan sistem agribisnis dari proses penentuan lokasi dan jenis sayuran yang akan dikembangkan, sarana produksi, teknologi budidaya, pengelolaan pasca panen, peningkatan nilai tambah dan pemasaran. Menurut Rahardi (2005) Agroklimat merupakan pertimbangan yang sangat penting dan merupakan faktor sukses dan tidaknya kegiatan agribisnis dibandingkan dengan faktor lahan. Faktor agroklimat sulit untuk direkayasa dengan faktor penentu seperti sinar matahari, hujan, angin, kelembaban dan suhu udara. Sementara itu tanah yang tidak subur dapat dirubah menjadi subur. Selain daripada itu faktor tenaga kerja juga sangat menentukan berhasil dan tidaknya usaha agribisnis sayuran, demikian juga manajemen pengelolaan agribisnis. Kiat memulai agribisnis agar sukses pertama yang harus diidentifikasi adalah apa yang kita miliki lahan, atau ketrampilan serta modal, apabila yang dimiliki modal harus dicari informasi pasar, lahan, dan keahlian. Namun apabila yang dimiliki hanya lahan harus diupayakan informasi pasar, alternatif modal dan pemilikan keahlian dan bila yang dimiliki modal maka diperlukan data pasar dan lokasi kegiatan serta komoditas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Menurut ATM-ROC (2009) Sayuran dataran tinggi pada umumnya dapat tumbuh baik pada suhu udara sejuk sekitar 250 C – 300 C dengan ketinggian tempat antara 500-1000 mdpl. Tanah yang dibutuhkan adalah tanah gembur, berpasir dengan kandungan mineral yang tinggi dan drainase yang sempurna. Benih yang digunakan dengan vigor 85% sedangkan untuk tanaman dataran rendah dapat tumbuh gengan ketinggian 1–300 mdpl, tanah yang dibutuhkan tanah berpasir, gembur dengan ph 5,6–6. Pemeliharaan tanaman diselenggarakan dengan menggunakan pupuk dasar dan pupuk lanjutan atau susulan sedangkan untuk pengendalian hama dilaksnakan bila diperlukan. Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) pada sayuran mampu mengurangi penggunaan pestisida cukup signifikan tanpa menurunkan hasil sehingga keuntunganpun bertambah. Metode diseminasi sistem usaha tani terpadu berbasis tanaman sayuran dengan pengembangan paket teknologi tumpang sari tomat, timun, bawangmerah, sawi dan kentang dapat meningkatkan pendapatan petani sayuran.
2.1.3. Subsistem Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Sayuran merupakan komoditas yang mudah rusak dan masih mengalami proses hidup (proses fisiologis). Dalam batas-batas tertentu proses fisiologis ini akan mengakibatkan perubahan-perubahan yang mengarah pada kerusakan-kerusakan atau kehilangan hasil.
Kerusakan dan kehilangan hasil produk sayuran akan terjadi dan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas yang terjadi pada tahap setelah panen sampai dengan tahap produk Siap dikonsumsi, rata-rata kehilangan/kerusakan hasil produk sayuran kira-kira berkisar 25–40 persen Kehilangan dapat diartikan sebagai akibat dari perubahan dalam hal ketersediaan, jumlah yang dapat dimakan yang akhirnya dapat berakibat sayuran tersebut tidak layak untuk dikonsumsi (P2HP Deptan, 2008). Faktor–faktor yang mempengaruhi kerusakan sayuran saat setelah panen akibat dari faktor biologi, faktor lingkungan (suhu, kelembaban dan komposisi atmosfir). Oleh karena itu agar proses pasca panen tidak menurunkan kualitas perlu ada penganan pasca panen yang baik seperti saat pemanenan yang baik dan tepat yaitu dengan panen hati-hati agar tidak terjadi kerusakan fisik, panen saat masak yang tepat, dengan analisa kimia mengukur kandungan zat pada dan zat asam atau zat pati. Selain itu Proses pemanenan dari panen, pengumpulan, pembersihan, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dan transpotasi dengan metode dan teknik yang benar. Mutu sayuran tidak dapat ditingkatkan tapi dipertahankan (Muctadi et al, 1995). Buah tomat akan masak saat berumur 70–90 hari setelah tanam dan sebaiknya dipanen saat pagi atau sore hari dan dilakukan sortasi terhadap buah yang rusak dan busuk serta dilakukan pembersihan dan pengemasan serta penyimpanan suhu dingin dengan kelembaban 95 persen, sebelum dipasarkan dan ada pemisahan antara buah masak dan kurang masak dan bawang merah siap panen umur 60-75 hari setelah tanam (ATM-ROC, 2004).
2.1.4. Subsistem Pemasaran
Kunci keberhasilan usaha tani agribisnis sayuran salah satunya adalah bagaimana mengembangkan peluang dan strategi serta mencari solusi adanya kendala dan masalah pemasaran komoditas sayuran. Kelancaran distribusi komoditas sayuran ini sangat perlu mengingat hal ini akan berpengaruh terhadap tersedianya pasokan dan terciptanya harga yang wajar. Disamping itu keamanan distribusi di era globalisasi menuntut terciptanya suatu sistem distribusi yang lebih efektif dan efisien serta harus mengutamakan selera kepuasan pasar atau konsumen domestik maupun global dengan demikian sayuran tersebut mempunyai nilai daya saing yang tinggi. Menurut Antara (2004) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara agraris, tetapi daya saing Hortikultura/sayuran di Indonesia masih rendah. Daya saing rendah karena pembinaan pada petani hanya difokuskan pada bercocok tanam, masalah mutu yang diharapkan pasar baik pasar domestik maupun ekspor terabaikan, sehingga daya saing rendah apalagi pada era globalisasi ini. Untuk itu peningkatan SDM dan fasilitasi pemerintah dalam teknologi budidaya, pasca panen, dan peningkatan nilai tambah serta pengembangan pasar, sangat diperlukan terutamanya kegiatan pendampingan. Pengembangan hortikultura khususnya sayuran haruslah secara profesional, artinya adanya pembangunan yang seimbang antara aspek pertanian, bisnis dan jasa penunjang. Penanganan produksi tanpa didukung dengan pemasaran yang baik tidak akan memberi manfaat dan keuntungan bagi petani.
Menurut Mubyarto (1989) produk hasil pertanian dapat bersaing sempurna ada 4 faktor yang harus diperhatikan yaitu 1) hubungan antara jumlah pembeli dan penjual, 2) sifat barang yang diperdagangkan, 3) SDM yang dimiliki tentang Mutu produk (sesuai permintaan tidak), 4) kebebasan dalam perdagangan. Pendapatan hasil produk dipengaruhi dari efisiensi biaya pemasaran.
2.2.      Pendampingan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat adalah proses dimana masyarakat khususnya mereka yang kurang memiliki akses kepada sumberdaya pembangunan didorong untuk semakin mandiri dalam mengembangkan perikehidupan mereka (Suryana,2003) Dalam proses ini masyarakat dibantu untuk mengkaji kebutuhan, masalah dan peluang dalam pembangunan yang dimilikinya sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi perikehidupan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat dengan sistem pendampingan merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan masyarakat agar mampu mewujudkan kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan dalam suasana keadilan sosial yang berkelanjutan.
Implementasi pemberdayaan itu sendiri sangat bervariasi dari waktu ke waktu dengan memperhatikan kondisi lapangan dan globalisasi. Sasaran utama sistem pendampingan ini adalah bagaimana membuka wawasan kelompok tani yang semula dengan sistem usaha tani produksi menjadi usaha tani agribisnis yang berorientasi keuntungan. Pendamping harus melakukanpembinaan dan peningkatan  kemampuan serta ketrampilan petani dalam mengakses sarana produksi, teknologi, pasca panen, pasar dan permodalan sehingga petani mampu mandiri mengembangkan usaha agribisnisnya.
Permasalahan yang selalu muncul dalam program pendamping-an ini adalah berapa lama program ini dijalankan dan apa sifat pendampingan tersebut sehingga kenyataan di lapangan sering timbul adanya ketergantungan dari petani karena tidak tuntasnya program pendampingan ini. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses perbaikan yang bertujuan untuk memberikan kemampuan pada siapapun agar mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat. Proses perbaikan tersebut tidak dapat tercapai tujuan dan sasaran apabila tidak didukung oleh seluruh stakeholder yang tidak berupaya untuk memperbaiki diri memahami fakta, memahami kebutuhan, memahami permasalahan serta melakukan aksi untuk keberman-faatan semua. Untuk dapat meningkatkan efektifitas proses pemberdayaan masyarakat maka dilakukan pendampingan.


2.3.      Pendapatan Usaha Tani
Sistem agribisnis sebagai rangkaian kegiatan subsistem-subsistem yang saling mempengaruhi satu sama lain, untuk subsistem non usahatani yang memegang peranan yang sangat besar dalam sistem agribisnis di Indonesia maupun negara berkembang lainnya adalah layanan dalam bidang pengolahan dan pemasaran (Krisnamurti,1992). Pendapatan per kapita dari kegiatan non usahatani tumbuh sekitar 14 persen per tahun sedangkan dari kegiatan usahatani hanya sekitar 3 persen per tahun yaitu dengan mengembangkan kegiatan fungsi–fungsi perdagangan (penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, sortasi, grading dan sebagainya).
Menurut Prawirokusumo (1990) ada beberapa pembagian pendapatan yaitu (1) Pendapatan kotor (Gross income) adalah pendapatan usahatani yang Belum dikurangi biaya-biaya, (2) Pendapatan bersih (net income) adalah pendapatan setelah dikurangi biaya, (3) Pendapatan pengelola (management income) adalah pendapatan merupakan hasil pengurangan dari total output dengan total input. Input–input produksi atau biaya–biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi serta menjadi barang tertentu atau menjadi produk akhir, dan termasuk didalamnya dan termasuk didalamnya adalah barang yang dibeli dan jasa yang dibayar. Ada beberapa konsep biaya dalm ekonomi yaitu 1) Biaya tetap (FC), 2) Biaya total tetap (TFC), 3) Biaya Variabel (VC) dan 4) Biaya total variabel (TVC) serta Biaya tunai dan tidak tunai. Biaya tetap (FC) yaitu biaya yang masa penggunaannya tidak berubah walaupun jumlah produksi berubah (selalu sama) atau tidak terpengaruh oleh besar kecilnya produksi karena tetap dan tidak tergantung kepada besar kecilnya usaha maka bila diukur per unit produksi biaya tetap makin lama makin kecil (turun), yang termasuk biaya tetap dalam usahatani sayuran antara lain tanah, bunga modal, pajak, dan peralatan.
Biaya Variabel (VC) yaitu biaya yang selalu berubah tergantung besar kecilnya produksi. Yang termasuk biaya ini adalah : biaya sarana produksi, biaya pemeliharaan, biaya panen, biaya pasca panen, biaya pengolahan dan biaya pemasaran serta biaya tenaga kerja dan biaya operasional. Biaya tunai meliputi biaya yang diberikan berupa uang tunai seperti biaya pembelian pupuk, benih/bibit, obat obatan, dan biaya tidak tunai adalah biaya–biaya yang tidak diberikan sebagai uang tunai tetapi tidak diperhitungkan seperti biaya tenaga kerja keluarga (Prawirokusumo, 1990). Pendapatan kotor adalah sejumlah uang yang diperoleh setelah dikurangi semua biaya tetap dan biaya variabel dan pendapatan bersih dihitung dari pendatan kotor dikurangi pajak penghasilan.
Pendapatan usaha tani adalah besarnya manfaat atau hasil yang diterima oleh petani yang dihitung berdasarkan dari nilai produksi dikurangi semua jenis pengeluaran yang digunakan untuk produksi. Untuk itu pendapatan usaha tani sangat dipengaruhi oleh besarnya biaya sarana produksi, biaya pemeliharaan, biaya pasca panen, pengolahan dan distribusi serta nilai produksi.
2.4.      Kerangka Pemikiran Teoritis
Keberhasilan pengembangan Agribisnis Sayuran sangat tergantung dari kemampuan sumberdaya manusia dalam mengembangkan sistem Agribisnis dari sub sistem agribisnis hulu/sarana produksi, sub sistem budidaya (on farm), sub sistem pengolahan dan sub sistem pemasaran (off farm) serta sub sistem penunjang yang diterapkan secara efektif dan efisien sehingga secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan petani sayuran. Permasalahannya di kabupaten Endrekang umumnya petani memiliki rata-rata lahan sempit (0,25 Ha), orientasi peningkatan pendapatan hanya pada kegiatan subsistem produksi (budidaya), Kemampuan sumberdaya petani dalam pengembangan agribisnis sayuran yang rendah, inovasi tehnologi dan akses pasar rendah sehingga posisi tawar rendah. Disisi lain pembinaan dan pendampingan pemerintah kurang, akibatnya pendapatan petani sayuran tumpangsari rendah. Di Kabupaten Baraka terdapat dua kelompok yang berbeda dalam mengembangkan usahatani agribisnis sayuran yaitu kelompok yang ada pendampingan tenaga ahli dari misi Taiwan dan kelompok tanpa pendampingan. Untuk itu dilakukan penelitian dengan judul pengaruh penerapan sistem Agribisnis terhadap peningkatan pendapatan petani di Kabupaten Endrekan. Diduga dengan Penerapan sistem Agribisnis sayuran dapat meningkatkan pendapatan petani. Secara detail dapat dilihat pada Gambar 1.









KERANGKA PEMIKIRAN














 







 




















 












Gambar 1 : Skema Kerangka Pemikiran


2.5.      Hipotesis
1.    Diduga tingkat pendapatan petani sayuran program pendampingan  ebih besar dari pada petani sayuran program tanpa pendampingan.
2.    Diduga secara serempak maupun secara parsial penerapan sistem agribisnis mempunyai pengaruh yang nyata terhadap pendapatan agribisnis sayuran pada tingkat petani.















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Keadaan Umum Kabupaten endrekang
3.1.1. Letak Geografis dan Wilayah Administratif
Kabupaten Enrekang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Enrekang. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.786,01 km² dan berpenduduk sebanyak ± 190.579 jiwa.
Ditinjau dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu') berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja. Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda di Massenrempulu', yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa. Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla', Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja. Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin. Melihat dari kondisi sosial budaya tersebut, maka beberapa masyarakat menganggap perlu adanya penggantian nama Kabupaten Enrekang menjadi Kabupaten Massenrempulu', sehingga terjadi keterwakilan dari sisi sosial budaya.
Berdasarkan PP No. 34 Tahun 1962 dan Undang-Undang NIT Nomor 44 Tahun 1960 Sulawesi terpecah dan sebagai pecahannya meliputi Administrasi Parepare yang lebih dikenal dengan nama Kabupaten Parepare lama, dimana kewedanaan Kabupaten Enrekang adalah merupakan salah satu daerah di antara 5 (lima) Kewedanaan lainnya.
Selanjutnya dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 74 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi) atau daerah Swatantra Tingkat II (DASWATI II), maka Kabupaten Parepare lama terpecah menjadi 5 (lima) DASWATI II, yaitu:
1.      DASWATI II ENREKANG
2.      DASWATI II SIDENRENG RAPPANG
3.      DASWATI II BARRU
4.      DASWATI II PINRANG
5.      DASWATI II PARE PARE
Kelima gabungan dearah tersebut dari dulu dikenal dengan nama Afelling Parepare.
Dengan terbentuknya DASWATI II Enrekang berdasarkan Undang-Undang Nomor: 29 Tahun 1959 tentang Pemerintahan Daerah, maka sebagai tindak lanjutnya pada tanggal 19 Februari 1960, H. ANDI BABBA MANGOPO dilantik sebagai Bupati yang pertama dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya DASWATI II Enrekang atau Kabupaten Enrekang.
Sehubungan dengan ditetapkannya Perda Nomor: 4, 5, 6 dan 7 tahun 2002 pada tanggal 20 Agustus 2002 tentang pembentukan 4 (empat) Kecamatan Definitif dan Perda Nomor 5 dan 6 Tahun 2006 tentang pembentukan 2 kecamatan sehingga pada saat ini di Kabupaten Enrekang telah memiliki 12 (dua belas) kecamatan yang defenitif, yaitu:
·            Kecamatan Enrekang, ibukotanya Enrekang
·            Kecamatan Maiwa, ibukotanya Maroangin
·            Kecamatan Anggeraja, ibukotanya Cakke
·            Kecamatan Baraka, ibukotanya Baraka
·            Kecamatan Alla, ibukotanya Belajen
·            Kecamatan Curio, ibukotanya Curio
·            Kecamatan Bungin, ibukotanya Bungin
·            Kecamatan Malua, ibukotanya Malua
·            Kecamatan Cendana, ibukotanya Cendana
·            Kecamatan Buntu Batu, ibukotanya Pasui, hasil pemekaran dari Kecamatan Baraka, diresmikan pada tanggal 19 Januari 2007.
·            Kecamatan Masalle, ibukotanya Lo’ko, hasil pemekaran dari Kecamatan Alla
·            Kecamatan Baroko, ibukotanya Baroko, hasil pemekaran dari Kecamatan Alla
Selanjutnya dari 12 (dua belas) kecamatan defenitif terdapat 112 (seratus dua belas) desa/kelurahan, yaitu 17 kelurahan dan 95 desa. Adapun jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 186.810 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 93.939 jiwa dan perempuan sebanyak 92.871 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 43.062.
3.1.2. Iklim dan Topografi
Kabupaten Endrekang dengan luas Wilayah 1.786,01 km² yang terdiri dari tanah sawah dengan luas 86,1264 Ha (22,54 %) dan Tanah kering seluas 37,0691 Ha (77,46 %), Potensi pengembangan Sayuran 8.180 Ha Untuk Kecamatan Endrekan merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki topografi hampir sama dengan Baraka yang terletak dilereng Gunung  dan Maiwang memiliki Luas Wilayah 37,80 Ha, yang terdiri dari 99,37 % tanah kering dengan luas 7,40 Ha dan tanah sawah 0,63 5 dengan luas 30,4 Ha dan Kecamatan endrekang luas wilayah 49,80 Ha terdiri dari 98,99 % tanah kering dengan luas 5.244,00 Ha dan luas Sawah 1,01 % atau seluas 55,80 Ha. Jenis tanah Kabupaten Endrekang sangat variatif, dari 19 Kecamatan terdiri dari tanah asosiasi litosol dan grumosol, Litosol Cokelat, Regusol Kelabu, litosol, regusol kelabu, regosol coklat, andosol coklat, kompleks regusol kelabu, grumosol kelabu tua, komplek andosol kelabu tua, asosiasi grumosol kelabu tua, dan mediteran coklat tua, dari aneka jenis tanah tersebut Kecamatan Maiwa dan Anggaraja terdapat jenis tanah litosol coklat, regusol kelabu, regusol coklat, andosol coklat, dan kompleks andosol kelabu. Topografi dengan ketinggian antara 75-1.500 dpl, untuk Kecamatan Endrekan 1.200-1.500 dpl dan anggeraja terletak di topografi 1.000–1.300 dpl.
Kecamatan Endrekang jumlah curah hujan tergolong cukup tinggi pada tahun 2007 yaitu 3.058 mm dengan jumlah hari hujan mencapai 110 Hh.dengan type iklim sedang (BPS Kecamatan Endrekang, 2011). Adapun Kecamatan Selo termasuk iklim tipe C dengan jumlah curah hujan tergolong cukup sedang pada tahun 2010 yaitu 2.786 Mm dengan jumlah hari hujan mencapai 109 Hh. ( BPS Kecamatan Maiwa, 2011).
  3.1.3. Kondisi Sosial dan Ekonomi Penduduk
Adapun jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2008 berjumlah sekitar 186.810 jiwa, terdiri dari laki-laki sebanyak 93.939 jiwa dan perempuan sebanyak 92.871 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 43.062. Pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 0,30 % dengan sex ratio 95,78 dengan demikian jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki–laki. Untuk Kecamatan Endrekang tingkat kepadatan penduduk lebih kecil sebesar 79 jiwa per km2 dibandingkan kecamatan maiwa sebesar 64 Jiwa per km2 berarti penduduk selo lebih kecil dengan luas lahan lebih luas dibandingkan Kecamatan Endrekang.
Mata pencaharian penduduk Kabupaten Endrekang didominasi pertanian sebesar 41,82% diikuti, lainnya 39,30 %, jasa 6,68% dan perdagangan 6,52%. Kecamatan Mawai matapencaharian didominasi Pertanian dan peternakan sebesar 65,40 % diikuti lainnya 17,44 % dan jasa 5,62 % dan perdagangan 1,27 %, sedangkan Kecamatan Anggera juga didominasi pertaniaan sebesar 65,35 % diikuti lainnya sebesar 17,45% dan diikuti industri pengolahan sebesar 5,62 %. Sektor-sektor yang mempunyai sumbangan terbesar tahun 2006 baik atas dasar harga berlaku (ADHB) maupun atas dasar harga konstan (ADHK) adalah sektor pertaniaan 34,21 % ADHB dan 35,84 ADHK diikuti sektor perdagangan sebesar 25,84 % ADHB dan 25,49 % ADHK baru industri 17,36 % ADHB dan 16,18 % ADHK.
   3.1.4. Keadaan Usaha Tani Sayuran
Dalam Pembangunan Pertanian khususnya sayuran Kabupaten Endrekan  telah disesuaikan kondisi topografinya. Dari 19 kecamatan sesuai jenis dan topografi baik ketinggian maupun jenis tanahnya. Sayuran yang telah dikembangkan di Kecamatan Baraka dan Maiwang adalah Sayuran dataran tinggi, Periode tanam pada bulan Oktober sampai bulan Maret sistem usahatani tumpangsari dan saat penelitian tumpangsari bawang merah dan tomat.
Menurut ATM-ROC,2008 tanaman tomat akan tumbuh baik pada suhu antara 16-26 derajad Celcius dan Bawang merah dapat tumbuh pada suhu 25 derajad Celcius.
Kecamatan Baraka dan Maiwang merupakan sentra produksi sayuran dataran tinggi di Kabupaten Boyolali, dengan komoditi sayuran yang beraneka ragam dan ditanam baik secara monokultur maupun campuran atau tumpang sari, sayuran ditanam pada lahan yang berbukit-bukit dengan kemiringan lahan dari agak datar sampai terjal. Usaha tani ini sudah cukup lama, cara usaha tani antara petani cepogo dan selo berbeda, karena di selo petani mengusahakannya dengan bimbingan misi Taiwan baik dari cara budidaya, pasca panen dan pengemasan serta pemasaran, sangat berbeda dengan cepogo yang masih tradisional karena tidak ada pendampingan.
Menurut Ishaq, at. Al. (2002) produksi tanaman sayuran dataran tinggi akan meningkat dengan baik bila dikelola dengan teknologi yang benar, teknologi yang harus diterapkan antara lain penggunaan benih unggul, cara pemupukan yang berimbang, penggunaan pestisida yang tepat dan penanganan pasca panen yang benar. Untuk Kabupaten Endrekang menurut laporan petugas lapangan, petani pada umumnya belum menerapkan teknologi budidaya sampai pasca panen karena kemampuaan SDM dan permodalan, maka produksi belum dapat optimal.
   3.1.5. Kebijakan Pengembangan Agribisnis
Penduduk Kabupaten Endrekang 46,65 % bekerja sebagai petani/ peternak maupun pekebun, maka pemerintah kabupaten Endrekang komitmen terhadap pembangunan pertanian secara luas, Ada tiga program pembangunan pertanian salah satunya adalah program agribisnis. Konsep pembangunan agribisnis belum dilaksanakan secara terpadu, hal ini dapat ditunjukkan dari data ekspor yang belum nampak nyata ada, berarti masalah pasar belum digarap dengan baik, demikian pula pengadaan benih unggul khususnya tanaman sayuran, teknologi belum diterapkan dengan baik kecuali pada wilayah yang ada pendampingan Taiwan, karena menurut laporan petani bahwa penyuluhan pertanian belum berjalan dengan baik.
Sajad (2009) konsekuensi daerah otonomi harus mempunyai komitmen yang tinggivdalam menggerakkan perekonomiaan masyarakatnya pertamavmengembangkan pola– pola agribisnis yang pelaksanaannya tidak hanya target persubsistem tapi merupkan sebuah sistem agribisnis yaitu masing–masing subsistem antar subsistem terjadi “harmonious orderly interaction” dan agribisnis yang dibangun merupakan bentuk “social economic organization” yang berorientasi bisnis, kedua pembangunan agribisnis di daerah otonom dimulai dengan dibangunnya subsistem hilir yang merupakan niaga produk agroindustri (pasar dan jaringannya) dan proses industrinya (benih, pupuk, pestisida, alat kemas) yang digunakan sebagai pendukung kegiatan on farm, dan ketiga konsolidasi lahan pertanian sebagai akibat niaga industri, selanjutnya dibangun sumber daya manusia yang profesional. Dengan demikian pembangunan subsistem dari hulu sampai hilir secara terpadu, terkoordinasi dalam operasionalnya dengan petugas lapangan sebagai pendamping petani yang profesional Petani sebagai sdm pertanian harus dirangsang untuk menjadi dialektis artinya jangan hanya produksi sebagai final tapi ada pemikiran bagaimana mutu yang dibutuhkan pasar.
Sedangkan saat peneliti melakukan pengamatan dari data dinas terkait kurang memadai, Fasilitas penunjang agribisnis sayuran sangat terbatas seperti fasilitas benih unggul kurang, petani membeli benih lokal, Balai Benih Sayuran tidak ada, pupuk langka dan fasilitas pasar belum baik dan petugas penyuluh kurang profesional dari hasil laporan petani tidak pernah ada penyuluh datang. Di Kabupaten Endrekang ada tenaga ahli Taiwan yang berfungsi sebagai pendamping petani masih terbatas hanya satu dan baru membina di Kecamatan Endrekang, Baraka dan Maiwang, Endrekang Kota (Bugis) dan Makasar, sehingga di Kecamatan ini cara budidaya dan pemasaran berbeda dengan kecamatan lain.

   3.1.6. Sistem Pendampingan Tenaga Ahli
Misi teknik Penyuluh pertanian adalah tenaga ekspert di bidang pertanian. Adapun Program dan kegiatan mereka melakukan pemberdayaan terhadap petani. Untuk meningkatkan usaha tani Sayuran di kabupaten Endrekang di pilih Kecamatan Endrekang, Baraka, Maiwa dan anggeraja karena daerah tersebut sangat cocok untuk pengembangan Sayuran, dari hasil laporan bapak salim dikatakan bahwa mereka melakukan pemberdayaan dari kegiatan subsistem pra produksi, budidaya, pasca panen, pengemasan dan pemasaran. Metode pembinaan tenaga ahli dengan pemberian percontohan, pelatihan (budidaya, pasca panen dan penanganan mutu sayuran, promosi hasil sayuran ke pusat–pusat konsumen dan pengembangan pasar). Pada tahun pertama sampai tahun 20111 tenaga ahli yang di tempatkan di kabupaten Endrekang adalah yang ahli dibidang Pertanian dan saat dilakukan penelitian tenaga ahli yang ada adalah dari tenaga pemasaran karena petani meminta tenaga tersebut. Sistem pendampingan dilakukan dengan peningkatan SDM melalui pelatihan dan membentuk Aspakusa (Asparagus, kucai dan sayuran) kelompok ini merupakan kelompok bersama yang tergabung dari 4 (empat) kecamatan binaan Tenaga ahli. Pelatihan dilakukan berdasarkan permasalahan di kelompok misalkan saat sekarang dilatih cara budidaya pangan organik yang baik karena permintaan pasar, dalam hal ini petani dilatih dari cara budidaya . Setiap bulan dilakukan pertemuan dalam kelompok bodi 1 untuk membahas hasil penjualan, informasi permintaan pasar dan menampung permasalahan untuk di pecahkan. Kelompok Aspakusa ini adalah kelompok petani sayuran yang merupakan kelompok bisnis, dalam organisasi ini dibentuk pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, seksi pemasaran dan seksi produksi.
Dari laporan Ketua salim bahwa kelompok ini setiap bulan merencanakan produksi, pemasaran mengelola keuangan dan mampu membayar tenaga kerja untuk penanganan sortasi, pengemasan dan pengepakan, saat wawancara pada bulan juli simpanan kelompok sudah mencapai 20 Juta (uang kelompok yang dikumpulkan dari anggota 0,5 % dari hasil penjualan). Fasilitasi Tenaga ahli misi Taiwan selain pelatihan dan bantuan pemecahan masalah juga pemberian gudang penyimpanan berupa colt Storage, dan bantuan bagaimana hubungan dengan pasar modern seperti Carefure, Solo square. Dan pasar tradisional. Sistem pendampingan dapat dilihat gambar 3. terlampir.
  3.1.7. Keadaan Umum Responden
Keadaan umum responden yang diidentifikasi dari umur, tingkat pendidikan, jumlah keluarga dan pengalaman berusahtani, mata pencaharian, jenis sayuran ditanam selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Dilihat dari segi umur sebanyak 60 persen responden berumur 41-50 tahun untuk kelompok mandiri, dan Untuk kelompok pendampingan responden terbanyak pada umur 21-30 tahun sebanyak 30 persen dan pada umur 31- 40 tahun juga sebanyak 30 persen, berarti kelompok petani pendampingan pada umumnya petaninya lebih muda dibandingkan petani mandiri. Sedangkan dilihat dari mata pencahariannya responden pendampingan 100 persen murni sebagai petani dan responden mandiri 55 persen sebagai petani murni, 35 persen campuran sebagai petani dan PNS dan campuran petani/pedagang 10 persen. Adapun segi pengalaman bertani, petani pendampingan lebih berpengalaman (11-15 tahun) dibandingkan petani mandiri (5-10 tahun), pengalaman adalah guru yang baik (Baraka,1997). Adapun jenis Sayuran yang ditanam pada umumnya setiap responden menanam aneka Sayuran dan saat penelitian jenis sayuran yang ditanam tumpang sari Tomat dan Bawang merah pada periode Oktober sampai Maret lainnya hanya sebagian kecil dan ditanam dipekarangan. Data identitas Responden di Kabupaten Endrekang dari hasi wawan cara kami kepada petani yaitu sebagai berikut :
Ø  Respondes  1
Nama                              :          pata juba
Umur                               :          34 tahun
Alamat                          :           desa perangian
Jumblah keluarga          :          6 orang
Hasil
1.    Komoditi
Ø  Bawang merah
2.    Lahan
Ø  Milik sendiri :           1 hetar
3.    Pengelolahan lahan
Ø  Mesin                      :           dompeng  atau kultifakto
Ø  Tenaga kerja           :           buruh, harian, dan borongan.
Ø  Biaya                       :           Rp.500.000,-
4.    Benih
Ø  Benih                   :           bima, porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø  Luas lokasi          :           1 hetar
Ø  Milik sendiri         :           beli
Ø  Berap biayanya  :           Rp.15.000.000,-
Ø  Bibit                     :           unggul di tanam langsung
5.    Pemeliharaan
Ø  Penyiangan        :           21 hasil
Ø  Penyulaman       :           2 minggun
Ø  Tenanga kerja    :           borongan, perorangan
6.    Hama dan penyakit
Ø  Hama                 :           ulat tanah, ulat daun, ulat grayak
Ø  Racun                :           gooel, dengker
7.    Pupuk
Ø  Jenis pupuk        :           tai ayam, urea, sp36, dan npk
Ø  Kapan                 :           sebelum tanam tai ayam dan sp36,                      setelah tanam  urea dan npk.
8.    Paska panen
Ø  Cara panen
-       Alat                       :           cabut
-       Tenanga               :           buruh
-       Sistem                  :           borongan, harian, dan  gotong royong.
-       Biaya                    :           gajih

9.    Analisis biaya
Ø  Biaya tetap                     :           tidak ada karena lahan milik        sendiri
Ø  Biaya variabel                :           Rp.15.000.000,-
Ø  Total biaya                     :           Rp.15.000.000,-
10.  Penerimaan
Ø  Berapa hasil                   :           10-15 ton
Ø  Berapa kali penanaman :           1 kali panen
Ø  Di jual kemana               :           di pasar
Ø  Berapa harganya           :           Rp.5.000,-perkilogram

Ø  Respondes  2
Nama                              :          salim
Umur                               :          30 tahun
Alamat                           :          desa perangian
Jumblah keluarga          :          4 orang
Hasil
1.      Komoditi
Ø  Bawang merah
2.    Lahan
Ø  Sewa                  :           1 hetar
3.    Pengelolahan lahan
Ø  Mesin                 :           dompeng  atau kultifakto
Ø  Tenaga kerja      :           buruh, harian, dan borongan.
Ø  Biaya                  :           Rp.500.000,-
4.    Benih
Ø  Benih                  :           bima, porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø  Luas lokasi         :           1 hetar
Ø  Milik sendiri        :           beli
Ø  Berap biayanya  :           Rp.15.000.000,-
Ø  Bibit                    :           unggul di tanam langsung
5.    Pemeliharaan
Ø  Penyiangan        :           21 hasil
Ø  Penyulaman       :           2 minggun
Ø  Tenanga kerja    :           borongan, perorangan
6.    Hama dan penyakit
Ø  Hama                 :           ulat tanah, ulat daun, ulat grayak
Ø  Racun                :           gooel, dengker
7.    Pupuk
Ø  Jenis pupuk        :           tai ayam, urea, sp36, dan npk
Ø  Kapan                 :           sebelum tanam tai ayam dan sp36,                      setelah tanam  urea dan npk.
8.    Paska panen
Ø  Cara panen
-       Alat                       :           cabut
-       Tenanga               :           buruh
-       Sistem                  :           borongan, harian, dan  gotong royong.
-       Biaya                    :           gajih
9.    Analisis biaya
Ø  Biaya tetap                     :           Rp.5.000.000,-
Ø  Biaya variabel                :           Rp.15.000.000,-
Ø  Total biaya                     :           Rp.20.000.000,-
10.  Penerimaan
Ø  Berapa hasil                   :           10-15 ton
Ø  Berapa kali penanaman :           1 kali panen
Ø  Di jual kemana               :           di pasar
Ø  Berapa harganya           :           Rp.5.000,-perkilogram
Ø  Respondes 
Nama                              :          pata juba
Umur                               :          40 tahun
Alamat                           :          desa perangian
Jumblah keluarga          :          8 orang
Hasil
1.    Komoditi
Ø  Bawang merah
2.    Lahan
Ø  Sewa                  :           1 hetar
3.    Pengelolahan lahan
Ø  Mesin                 :           dompeng  atau kultifakto
Ø  Tenaga kerja      :           buruh, harian, dan borongan.
Ø  Biaya                  :           Rp.15.000.000,-
4.    Benih
Ø  Benih                  :           bima, porbolinggo, brebes, dan surawaja.
Ø  Luas lokasi         :           1 hetar
Ø  Milik sendiri        :           beli
Ø  Berap biayanya  :           Rp.15.000.000,-
Ø  Bibit                    :           unggul di tanam langsung
5.    Pemeliharaan
Ø  Penyiangan        :           21 hasil
Ø  Penyulaman       :           2 minggun
Ø  Tenanga kerja    :           borongan, perorangan
6.    Hama dan penyakit
Ø  Hama                 :           ulat tanah, ulat daun, ulat grayak
Ø  Racun                :           gooel, dengker
7.    Pupuk
Ø  Jenis pupuk        :           tai ayam, urea, sp36, dan npk
Ø  Kapan                 :           sebelum tanam tai ayam dan sp36,                      setelah tanam  urea dan npk.
8.    Paska panen
Ø  Cara panen
-       Alat                          :           cabut
-       Tenanga                  :           buruh
-       Sistem                     :           borongan, harian, dan  gotong royong.
-       Biaya                       :           gajih
-        
9.    Analisis biaya
Ø  Biaya tetap                     :           Rp.5.000.000,-
Ø  Biaya variabel                :           Rp.15.000.000,-
Ø  Total biaya                     :           Rp.15.000.000,-
10.  Penerimaan
Ø  Berapa hasil                   :           10-15 ton
Ø  Berapa kali penanaman :           1 kali panen
Ø  Di jual kemana               :           di pasar
Ø  Berapa harganya           :           Rp.5.000,-perkilogram
3.2.   Output usaha tani
            Hasil Produksi   15.000  Kg  X  Rp.  5000,-= Rp.  75.000.000,-
3.3.        Provit usaha tani
      Keuntungan   Rp. 75.000.000,- –  Rp. 15.000.000,-    =  Rp. 60.000.000,-
     B/C Ratio =        75.000.000,- / 15.000.000,-    =   24,933










BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh sistem Agribisnis terhadap pendapatan petani sayuran bawang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Mekanisme pendampingan misi teknik Penyuluh pertanian dengan pemberdayaan petani melalui kelompok tani Asparagus, Kucai dan Sayuran (Kelompok tani Aspakusa) telah dilaksanakan dengan baik dan pada subsistem pemasaran belum efisien.
2.    Penerapan sistem agribisnis sayuran di kelompok responden pendampingan telah dilaksanakan dengan baik dan kelompok tanpa pendampingan belum dilaksanakan dengan baik.
3.    Pendapatan rata–rata petani sayuran per hektar per musim tanam (Oktober-April) petani pendampingan lebih tinggi (Rp 60.000.000,-)
4.    Penerapan subsistem agribisnis hulu, subsistem usahatani, pengolahan hasil dan Model Usahatani, baik secara parsial maupun serempak berpengaruh nyata terhadap Pendapatan pada tingkat petani. Dan subsistem pemasaran tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani sayuran. Pendapatan petani pendampingan lebih besar dibandingkan petani tanpa pendampingan.
4.2.      Saran
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bahwa :
1.    Penerapan sistem agribisnis sayuran di kelompok tani Bodi 1 (asparagus, kucai dan sayuran) hasil binaan Penyuluh pertanian dan bukan binaan, difasilitasi pemerintah dalam peningkatan sumberdaya manusia dan dilakukan pendampingan dari subsistem sarana produksi, usahatani/budidaya, pengolahan, pemasaran dan jasa penunjang dengan peningkatan fasillitas pasar, Bank, penelitian, pelatihan dan pendampingan, sehingga bila sudah tidak ada pendampingan tidak terjadi penurunan pendapatan.
2.    Untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana produksi dan teknologi usaha tani perlu ada koordinasi antara peneliti, penyuluh dan pemerintah daerah.
3.    Dalam pengembangan agribisnis sayuran berlahan sempit sebaiknya dilakukan penguatan kelembagaan dan fasilitasi kepada kelembagaan agribisnis sayuran petani, dengan dilakukan pembinaan dalam penguatan kelembagaan seperti kelompok aspakusa, koperasi dll.
4.    Petani disarankan untuk menerapkan sistem agribisnis dari hulu sampai hilir dengan efektif dan efisien serta menerapkan sistem jaminan mutu dengan penerapan Standart Operasional Prosedur dengan benar.







DAFTAR PUSTAKA

AAk, 2004. Pedoman Bertanam Bawang, Kanisius, Yogyakarta. Hlm 18. BPPT, 2007 . Teknologi budidaya Tanaman Pangan.
htpp//www.iptek.net.id/ind/tekn ologi-pangan/index.php id=244.Diakses 11 Januari 2012.
Deptan. 2012 . Pengenalan Dan Pengendalian Beberapa OPT Benih Hortikultura.
______, 2012 . Prospek Dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. c
Irwan, 2012. Bawang Merah dan Pestisida.
http://www.waspada.co.id/serba-serbi/kesehatan/artikel php article-id=7849811 .
Diakses 21 Februari 2007. H U U H
Moekesan.T.K., Prabaningrum, L., dan Meitha, L.R., 2000. Penerapan PHT. Pada system Tanaman Tumpang gilir. Bawang merah dan cabai.. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Jakarta Hlm 8-10, 30.
Rukmana, R, 1995. Bawang merah Budidaya Dan Pengolahan Pasca panen. Kanisius, Jakarta, Hlm 18.
Rahayu, E, dan Berlian,N. V. A, 1999. Bawang Merah. Penebar swadaya, Jakarta, Hlm4.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar